Iklan Sponsor Eksklusif

Wujudkan Rumah Impian Bersama Grand Flora

Dapatkan diskon DP 0% dan cicilan ringan khusus bulan ini. Klik untuk info selengkapnya!

Kunjungi Penawaran →
Pendidikan, Karir, Ekonomi

Mengejutkan! 5 Jurusan S1 Ini Ternyata Paling Banyak Menganggur Menurut LPEM FEB UI

18 August 2026 · admin

Memiliki gelar Sarjana (S1) seringkali dianggap sebagai tiket emas menuju karir impian. Namun, realitas pasar kerja di Indonesia justru menunjukkan gambaran yang berbeda. Meskipun akses pendidikan tinggi semakin mudah, tantangan mencari pekerjaan yang sesuai dengan latar belakang pendidikan masih menjadi momok bagi banyak lulusan. Sebuah laporan terbaru dari Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) justru membeberkan fakta mengejutkan mengenai jurusan-jurusan yang lulusannya paling banyak menganggur.

Fenomena Pengangguran Sarjana di Indonesia: Antara Gelar dan Realita Pekerjaan

Masalah pengangguran, terutama di kalangan berpendidikan tinggi, masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi bangsa ini. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa setelah sempat menurun pada tahun 2022, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) untuk penduduk berpendidikan minimal S1 kembali merangkak naik. Dari 4,80 persen di tahun 2022, angka ini meningkat menjadi 5,18 persen pada 2023, lalu 5,25 persen pada 2024, dan mencapai 5,39 persen pada Agustus 2025. Angka-angka ini menjadi sinyal penting bahwa pasar kerja mungkin belum sepenuhnya siap menyerap gelombang lulusan Sarjana yang terus bertambah.

LPEM FEB UI Ungkap Kondisi Pasar Kerja Terkini

LPEM FEB UI melalui laporan “Labor Market Brief Volume 7 Nomor 7” yang dirilis pada Juli 2026, mengangkat judul yang sangat relevan: “Ketika Akses Pendidikan Tinggi Bertambah, Apakah Pasar Kerja Siap?”. Laporan yang disusun oleh Muhammad Hanri, Ph.D., dan Nia Kurnia Sholihah, M.E., ini menggunakan data Sakernas Agustus 2025 untuk menganalisis kesiapan pasar kerja Indonesia. Hasilnya? Selain masalah jumlah pengangguran yang meningkat, laporan ini juga menyoroti fenomena “banyak lulusan S1 bekerja di bawah tingkat pendidikan” yang mereka miliki.

Inilah 5 Jurusan S1 yang Lulusannya Paling Banyak Menganggur

Berdasarkan laporan LPEM FEB UI, dilihat dari bidang studi pendidikan terakhir, ada lima jurusan yang paling banyak menyumbang angka pengangguran di kalangan lulusan S1. Mungkin salah satunya adalah jurusan yang Anda atau kerabat Anda ambil:

1. Manajemen (10,3 persen)

Di posisi teratas adalah jurusan Manajemen. Meskipun menjadi salah satu jurusan paling populer dan fleksibel, tingginya jumlah lulusan setiap tahun tampaknya tidak sebanding dengan ketersediaan lapangan kerja yang relevan. Persaingan ketat membuat banyak lulusan sulit menemukan posisi manajerial atau setidaknya yang sesuai dengan ekspektasi mereka.

2. Hukum (9,0 persen)

Lulusan Hukum menempati urutan kedua. Profesi hukum yang terlihat bergengsi ternyata memiliki tingkat persaingan yang tidak kalah sengit. Kebutuhan akan spesialisasi, ditambah proses sertifikasi yang panjang untuk menjadi advokat atau notaris, bisa menjadi hambatan awal bagi fresh graduate.

3. Ekonomi (8,7 persen)

Sama seperti Manajemen, jurusan Ekonomi seringkali dianggap sebagai pilihan aman. Namun, sifatnya yang umum dan banyaknya lulusan membuat pasar kerja menjadi jenuh. Lulusan Ekonomi dituntut untuk memiliki keahlian tambahan yang spesifik atau kemampuan analisis data yang kuat agar bisa bersaing.

4. Pendidikan (7,1 persen)

Meskipun guru adalah profesi mulia, lulusan Pendidikan juga menghadapi tantangan pengangguran. Ketersediaan formasi PNS yang terbatas, serta persaingan di sekolah swasta, membuat banyak lulusan harus bersabar atau mencari alternatif karir lain di luar bidang pengajaran.

5. Akuntansi (5,1 persen)

Akuntansi, yang dikenal sebagai jurusan dengan prospek cerah, ternyata masih masuk dalam daftar ini. Meskipun keterampilan akuntansi selalu dibutuhkan, otomatisasi dan perubahan teknologi di bidang keuangan menuntut lulusan untuk terus memperbarui keahlian mereka, misalnya dengan menguasai perangkat lunak akuntansi terbaru atau sertifikasi profesi.

Bukan Sekadar Angka: Mengapa Jurusan Ini Rentan Menganggur?

Laporan LPEM FEB UI mengindikasikan bahwa masalah pengangguran sarjana bukan hanya tentang jumlah, tetapi juga kualitas dan relevansi. Ada beberapa faktor yang mungkin menyebabkan jurusan-jurusan ini rentan menganggur:

  • Oversupply Lulusan: Jumlah lulusan yang jauh melebihi ketersediaan lapangan kerja.
  • Skill Mismatch: Kurikulum perkuliahan yang belum sepenuhnya selaras dengan kebutuhan industri saat ini, sehingga lulusan kurang memiliki keterampilan yang relevan.
  • Ekspektasi Gaji: Lulusan S1 seringkali memiliki ekspektasi gaji yang lebih tinggi, sementara banyak posisi awal yang tersedia menawarkan gaji di bawah harapan.
  • Perubahan Pasar Kerja: Digitalisasi dan otomatisasi mengubah lanskap pekerjaan, menuntut keterampilan baru yang tidak selalu diajarkan di bangku kuliah.

Strategi Menghadapi Tantangan Pasar Kerja: Apa yang Bisa Dilakukan?

Melihat kondisi ini, penting bagi para calon mahasiswa maupun lulusan untuk lebih proaktif dan strategis. Beberapa langkah yang bisa diambil antara lain:

  1. Kembangkan Keterampilan Tambahan: Selain ilmu dasar jurusan, bekali diri dengan keterampilan digital, analisis data, komunikasi, atau bahasa asing.
  2. Aktif Magang: Pengalaman kerja sangat berharga. Magang memberikan kesempatan untuk menerapkan ilmu, membangun jaringan, dan memahami dinamika industri.
  3. Fokus pada Spesialisasi: Jika jurusan Anda umum, coba fokus pada bidang spesifik yang sedang naik daun atau memiliki permintaan tinggi.
  4. Jaringan (Networking): Bangun relasi dengan profesional di bidang yang Anda minati.
  5. Pendidikan Berkelanjutan: Jangan berhenti belajar setelah lulus. Ikuti kursus, workshop, atau sertifikasi yang relevan.

Fenomena pengangguran sarjana ini menjadi pengingat bagi kita semua, bahwa gelar saja tidak cukup. Kesiapan diri, adaptasi, dan kemauan untuk terus belajar adalah kunci utama dalam menghadapi dinamika pasar kerja yang terus berubah.