Iklan Sponsor Eksklusif

Wujudkan Rumah Impian Bersama Grand Flora

Dapatkan diskon DP 0% dan cicilan ringan khusus bulan ini. Klik untuk info selengkapnya!

Kunjungi Penawaran →
Politik, Nasional, Bencana

Chusnul Chotimah Tantang Jokowi ke NTT, Soroti Kecepatan Kampanye PSI

18 August 2026 · admin

Sebuah kritik pedas dilayangkan oleh pegiat media sosial Chusnul Chotimah yang menjadi sorotan publik. Chusnul secara terang-terangan membandingkan respons Presiden Joko Widodo (Jokowi) terhadap musibah gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan kecepatan beliau dalam mengampanyekan Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Perbandingan ini muncul setelah dua kader terkemuka PDI Perjuangan, Ganjar Pranowo dan Tri Rismaharini, sigap terjun langsung ke lokasi bencana.

Chusnul Chotimah: Ketika PSI Cepat, NTT Jadi Lambat?

Kritik Chusnul Chotimah ini berawal dari unggahannya di platform X, yang langsung menyedot perhatian warganet. Ia secara spesifik mempertanyakan kapan Presiden Jokowi akan kembali mengunjungi NTT pasca-gempa. “Kapan ke NTT lagi pak @jokowi?” tulis Chusnul, dikutip dari unggahannya pada Senin, 17 Agustus 2026. Pertanyaan ini bukanlah tanpa alasan, melainkan disandingkan dengan pengamatan Chusnul terhadap prioritas Presiden.

Menurut Chusnul, Jokowi dinilai sangat cepat ketika berurusan dengan kampanye untuk PSI, partai yang kini diketuai oleh putranya, Kaesang Pangarep. “Giliran untuk Kampanyekan PSI cepat, masa untuk bantu rakyat NTT ga peduli pak?” pungkas Chusnul, menyiratkan adanya dugaan ketidakpedulian atau lambatnya respons terhadap penderitaan rakyat di NTT dibandingkan dengan agenda politik. Pernyataan ini sontak memicu perdebatan sengit mengenai skala prioritas seorang pemimpin negara, terutama di tengah kondisi bencana.

Gerak Cepat Ganjar dan Risma Turun Langsung ke NTT

Berbeda dengan kritik yang diarahkan kepada Presiden Jokowi, dua nama besar dari PDI Perjuangan, Ganjar Pranowo dan Tri Rismaharini, menunjukkan respons cepat dan konkret terhadap bencana gempa di NTT. Mereka tiba di Labuan Bajo pada Minggu, 16 Agustus 2026 sore, bersama rombongan DPP PDIP. Rombongan ini tidak hanya membawa nama partai, tetapi juga dukungan nyata berupa bantuan kemanusiaan.

Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Penanggulangan Bencana Tri Rismaharini dan Ketua DPP Bidang Pemerintahan dan Otonomi Daerah Ganjar Pranowo memimpin langsung penyaluran bantuan. Kebutuhan dasar seperti beras, minyak goreng, mi instan, telur, biskuit, air mineral, terpal, serta kebutuhan khusus untuk anak-anak dan perempuan diboyong untuk para pengungsi. Tim dokter dan Badan Penanggulangan Bencana (Baguna) PDI Perjuangan juga turut serta, memastikan penanganan medis dan penanggulangan bencana berjalan optimal.

Belanja di Warung Lokal: Bantuan yang Menggerakkan Ekonomi

Salah satu aksi menarik yang dilakukan Risma dan Ganjar di NTT adalah keputusan mereka untuk membeli kebutuhan pokok di pasar dan minimarket setempat. Mereka terlihat berbelanja di toko dan warung lokal, membeli telur, minyak, buah pisang, biskuit, air mineral, mi instan, dan berbagai kebutuhan lainnya. Bantuan yang disalurkan kepada warga di Flores, NTT, ini tidak hanya meringankan beban korban, tetapi juga memberikan dampak positif bagi perekonomian lokal yang mungkin ikut terdampak bencana.

Langkah ini mengirimkan pesan kuat tentang keberpihakan kepada rakyat kecil dan upaya pemulihan ekonomi di daerah bencana. Ini adalah pendekatan yang tidak hanya berfokus pada pemberian bantuan semata, melainkan juga mengintegrasikan dukungan terhadap keberlangsungan hidup masyarakat secara lebih luas.

Prioritas di Ujung Tombak Kritik dan Harapan Rakyat

Perbandingan yang dilontarkan Chusnul Chotimah menjadi refleksi penting tentang harapan masyarakat terhadap pemimpin mereka. Di satu sisi, ada kebutuhan akan respons cepat dan nyata dalam menghadapi bencana, yang dibuktikan oleh tindakan Ganjar dan Risma. Di sisi lain, ada sorotan terhadap prioritas politik yang terkadang terlihat lebih mendominasi daripada isu kemanusiaan. Gempa NTT dan respons para tokoh politik ini menjadi cermin tentang bagaimana publik menilai kepemimpinan: dari seberapa cepat mereka hadir di tengah kesulitan rakyat, bukan hanya di tengah hiruk pikuk kampanye.

Debat ini tentu akan terus berlanjut, mengingatkan para pemangku jabatan bahwa kepedulian terhadap rakyat dan penanganan bencana adalah tugas fundamental yang tidak bisa diabaikan, bahkan ketika agenda politik sedang memanas.